Nama penulis: HAMKA
Penerbit: PT. Balai Pustaka (Persero)
Keterangan edisi: Cetakan I, 2011
Halaman: 198 halaman
ISBN: 979 – 690 – 903 – 0

Kisah bermula pada suatu kejadian di sebuah negeri kecil dalam wilayah Batipuh X Koto (Padang Panjang). Kala itu, terjadi perdebatan mengenai harta warisan antara Pendekar Sutan dengan mamaknya yang berujung pada kematian. Akibat ulahnya, Pendekar Sutan lantas diasingkan dari Batipuh ke Cilacap selama dua belas tahun karena membunuh mamaknya. Adapun pembunuhan yang dilakukannya bukan tanpa alasan, melainkan karena rasa ketidakadilan yang dialaminya. Semua dikarenakan hukum adat yang berlaku ketika itu.

Setelah bebas dari keterasingan, Pendekar Sutan memilih menetap di Makassar dan enggan kembali ke kampung halamannya. Pendekar Sutan lalu menikah dengan Daeng Habibah, anak seorang tua keturunan bangsa Melayu. Akan tetapi, setelah memperoleh seorang anak bernama Zainuddin, Daeng Habibah meninggal dan, tak lama setelah itu Pendekar Sutan pun menyusul sang istri menghadap Sang Khalik, Zainuddin lalu menjadi yatim piatu, anak orang terbuang yang sungguh malang.

Seiring berjalannya waktu, terlintaslah di benak Zainuddin untuk mengunjungi negeri nenek moyangnya tempat ayahnya berasal, Batipuh. Zainuddin lalu meminta izin kepada pengasuhnya semenjak kecil, Mak Base untuk berangkat ke Minangkabau. Awalnya Mak Base teramat berat melepas kepergian Zainuddin, tetapi karena kearifan dan kedewasaan Zainuddin, Mak Base luluh jua dan merelakan keberangkatannya. Zainuddin pun menepis semua kekhawatiran dan bergembiralah hatinya penuh harap akan sesuatu yang bakal terjadi kedepannya.

Namun sangat disayangkan kenyataan ingkar terhadap pengharapan. Setibanya di tanah asal, kedatangan Zainuddin tidak mendapatkan sambutan baik di tengah-tengah struktur masyarakat matrilineal yang bernasabkan kepada ibu. Akibatnya, ia merasa terasing. Belum lagi keluarga dari pihak ayahnya tersebut ternyata hanya pamrih dalam menyambut dia dikarenakan materi yang dipunya Zainuddin. Hingga, dia bertemu dengan sesosok anak manusia yang mencerahkan hari-harinya: Hayati.

Berawal dari kebaikan hati Zainuddin yang meminjamkan payung di kala hujan, mereka saling berkirim surat setelahnya. Zainuddin seakan menemukan cahaya hidupnya kembali dan tanpa ragu melalui surat-surat ia kerap mencurahkan kesedihannya kepada Hayati.

Tak dapat dipungkiri, benih-benih cinta lantas bersemayam di hati kedua insan muda tersebut. Mereka saling mengagumi, dan kemudian menyadari bahwa mereka ternyata saling cinta. Tapi, lagi-lagi harapan kembali pupus dan demi memulihkan hati dan perasaannya, berbekal janji dan rasa cinta Hayati, Zainuddin lalu memutuskan pindah ke Padang Panjang.

Namun, sekembali dari Padang Panjang, Hayati dihadapkan oleh permintaan keluarganya yang telah sepakat untuk menerima pinangan Azis, kakak Khadijah; Hayati pun sungguh bimbang. Aziz, yang murni keturunan Minang dan berasal dari keluarga terpandang, lebih disukai keluarga Hayati daripada Zainuddin. Meskipun masih mencintai Zainuddin, Hayati akhirnya terpaksa menerima dinikahkan dengan Aziz. Pinangan Zainuddin ditolak mentah-mentah. Harapannya pupus sudah.

Mengetahui perihal pernikahan tersebut, Zainuddin yang sempat berputus asa pergi ke Jawa bersama temannya Muluk, seorang pendosa yang ingin insaf dan bertobat. Mereka tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal dikarenakan jiwa pengarangnya yang luar biasa. Pada saat yang sama, Aziz juga pindah ke Surabaya bersama Hayati karena alasan pekerjaan, tetapi rumah tangga mereka akhirnya menjadi berantakan. Tak pelak kisruh rumah tangga yang terjadi dikarenakan sikap Aziz yang di luar batas kewajaran. Surabaya lantas menjadi tempat pertemuan mereka di tanah rantau.

Setelah Aziz dipecat, mereka menumpang ke rumah Zainuddin. Roda kehidupan memang terus berputar tiada henti, terkadang di atas, pun kelak bisa di bawah. Aziz tidak mampu menerima kenyataan hingga dia ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara yang sadis. Dia bunuh diri dan ditemukan tak bernyawa di suatu kamar hotel. Adapun sebelum mengakhiri hidupnya Aziz meninggalkan sepucuk surat untuk Zainuddin dan surat cerai untuk Hayati. Dalam sepucuk surat yang ditinggalkan, ia berpesan agar Zainuddin menjaga Hayati. Hari-hari pun dilewatkan bersama Hayati di rumah Zainuddin. Kendati demikian mereka dekat tetapi terasa berjauhan. Zainuddin belum serta merta memaafkan kesalahan Hayati di masa lampau. Hayati akhirnya disuruh pulang ke Batipuh dengan menaiki kapal Van der Wijck. Inilah awal mula tragedi terjadi.

Di tengah-tengah perjalanan, kapal yang dinaiki Hayati tenggelam, dan setelah Zainuddin mendengar berita itu ia langsung menuju sebuah rumah sakit di Tuban. Sebelum kapal tenggelam, Muluk yang menyesali sikap Zainuddin memberi tahu Zainuddin bahwa Hayati sebetulnya masih mencintainya. Namun tak lama setelah Zainuddin datang, Hayati meninggal. Penyesalan menjadi tiada berarti dan berguna lagi. Sepeninggal Hayati, Zainuddin menjadi sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal. Jasadnya dimakamkan di dekat pusara Hayati. Terhenti sudah putaran roda nasib bagi Zainuddin yang kerap dirundung malang, hidup sebatang kara sebagai yatim piatu semenjak kecil tanpa ayah bunda, kehilangan Mak Base, lalu Hayati.

ISI

Hamka menggambarkan penokohan secara runut. Tokoh Hayati akan pertama kali diketemukan setelah Zainuddin, di bagian Tanah Asal (4). Selanjutnya tokoh Khadijah di bagian Cahaya Hidup (5). Disusul tokoh Aziz dalam bagian Pacuan Kuda dan Pasar Malam (10).

Semenjak kecil Zainuddin sangat akrab dengan lautan dikarenakan dia tinggal di tanah asal ibunya yaitu kota Mengkasar. Tiada dia menyangka bahwa lautan yang sangat dicintainya itu pula yang akan mengambil cintanya yang sejati yaitu Hayati di kemudian hari. Namun, kecintaan pada Hayati dan lautan tidak dapat dipungkiri.

Kecintaannya pada lautan dan Hayati tergambar jelas di bab Jiwa Pengarang (17) yaitu:

“Maka adalah cinta kepada Hayati dan pengliarapan yang terputus yang memuarakan jiwa dan semangat baru dalam perjuangan hidup anak muda itu, ke lautan yang luas!”

Sungguh cinta yang luasnya seluas samudera dalam dan tiada berujung. Cinta yang mampu menenggelamkan akal ke dasar sanubari.

Adapun klimaks cerita terletak di akhir tepat di bagian Pulang (25) dan Surat Hayati yang Penghabisan (26). Di bagian Pulang, kali pertama disebutkan Van Der Wijck, kapal yang penuh petaka. Selanjutnya, dalam bagian Surat Hayati yang Penghabisan, ditemukan kata tenggelam. Tenggelamnya kapal Van Der Wijck beserta Hayati didalamnya menjadi klimaks cerita dan merupakan puncak klimaks kemalangan serta penyesalan bagi seorang Zainuddin.

Menarik sekali penggambaran tokoh Zainuddin yang kerap dirundung malang tersebut. Hamka berhasil menggiring pembaca agar bersedih sejadi-jadinya dan iba hati terhadap tokoh Zainuddin. Saya sendiri sedari awal cerita merasa bahwasanya Zainuddin tidak hanya memiliki jiwa pengarang, pun penyair. Ibarat Kahlil Gibran yang kerap mengirimi surat-surat cinta kepada May Ziadah. Kendati begitu, Zainuddin masih sedikit beruntung pernah bisa menjumpai Hayati, sedangkan Gibran harus merelakan bercinta dengan kekasih yang tak pernah bertemu muka dengannya, kecuali dalam bayangan dan impian. Percintaan jarak jauh belaka ini pun berlangsung lebih dari berpuluh-puluh tahun lamanya.

PENUTUP

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tersurat dan tersirat beberapa tradisi dalam adat Minang yang berlaku saat itu, seperti perlakuan terhadap orang berketurunan blasteran dan peran perempuan dalam masyarakat. Melalui Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Hamka semacam berusaha menumbuhkembangkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa demi tercapainya kemerdekaan dengan tidak melebarkan perbedaan antar suku dan budaya. Hayati mewakili potret perempuan Minangkabau yang harus tunduk pada stuktur adat, meskipun harus berjuang keras melawan keinginannya sendiri. Simbol Zainuddin mempertanyakan ketimpangan adat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Sedangkan Aziz adalah simbol kewibawaan tetapi berperilaku buruk. Demikianlah, materi masih menjadi pertimbangan tersendiri dalam memilih maupun menerima pinangan seseorang. Sepertinya perihal semacam ini masih berlaku dan akan terus mewarnai fenomena masyarakat masa kini.